Sunday, May 5, 2019

Konsekuensi dari Eksploitasi yang Harus dihadapi Manusia

Manusia, selalu melakukan eksploitasi dan merusak lingkungan dengan dalih eksplorasi terhadap kekayaan alam yang nantinya akan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Ya, itu hanya dalih yang sekedar alasan untuk melakukan tindakan yang sudah sejak dulu kita tahu akan berakibat fatal dalam kehidupan manusia.

Siapa yang tidak tahu kenyataan bahwa gedung-gedung yang menjulang tinggi dan megah merupakan sebuah bom waktu yang dibuat oleh manusia dan siap meledak kapan saja dan dimana saja. Mereka bilang itu adalah investasi, investasi untuk kehidupan kita kelak. Tapi agaknya hal tersebut menjadi sebuah penyakit, gedung-gedung terus bertambah seiring dengan sifat manusia yang semakin egois dan skeptis.

Tak cukup dengan gedung tinggi di setiap tanah yang kosong, kita bangun area pabrik yang membuang limbah dan mengotori alam tiap harinya. Apa yang kita minta selalu dikabulkan oleh alam, tanah, air, udara, lalu mengapa kita dengan acuhnya merusak serta mengotori alam yang selama ini memberi penghidupan kepada kita."manusia memang bodoh", mungkin kata-kata itulah yang terucap oleh malaikat nan jauh disana ketika mereka melihat tingkah laku kita yang bahkan sudah tak layak dibandingkan dengan binatang.

Tidak etis, tidak tahu terimakasih, sombong, congkak, rakus, merupakan gambaran yang dapat kita tangkap ketika kita mulai berbicara tentang masyarakat di zaman yang serba ruwet ini. Dengan kemampuan yang kita miliki kita membuat sebuah perubahan besar pada bumi kita ini. Rantai makanan yang kacau akibat ulah kita, hewan dengan predikat "punah" bertambah tiap waktu, akibat ulah kita.., manusia.

Kita lupa bahwasanya selalu ada orang yang memperhatikan perbuatan kita, tingkah laku kita, dan tindak tanduk kita di dunia ini. Ya, Dia-lah yang selalu memperhatikan kita, memberi peringatan dan menghukum kita. ulat bulu, tomcat, tidakkah itu memberi sebuah gambaran kepada kita tentang betapa buruknya persoalan yang saat ini sedang kita hadapi?, kita berhadapan dengan diri kita sendiri. Nafsu dan sifat kita yang sombong, congkak, dan rakus.

Kapankah manusia akan mulai berpikir dan mulai mendengarkan suara alam?, "manusia, aku akan selalu ada untukmu", mungkin itu suara-suara yang telah menghilang ditengah keramaian dan kebisingan lalu lalang di kota-kota besar. Marilah kita berpikir, merenung, bumi ini diberikan kepada kita, dititipkan, untuk kita pelihara dan kita jaga. Bukan untuk kita rusak dan kita hancurkan. Kita tinggal dan berpijak dalam suatu bidang yang kita sebut bumi, akankah kita membunuh diri kita sendiri dengan merusak bidang tersebut?.
Wahai manusia, pikirkanlah!.

No comments:

Post a Comment